Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah #31harimenulis [DAY 8]





                Kurang lebih seperti itu hal yang kuingat mengenai memberi dan diberi. Kalimat tersebut merupakan salah satu poin utama dari pengajaran pengembangan diri saat TK dulu. Sering sekali terdengar kalimat di atas saat sang guru menceritakan suatu peristiwa tentang memberi dan diberi.
                TK saya dahulu adalah sebuah sekolah muslim yang cukup ternama di bilangan Jakarta Utara. Entah bagaimana orangtua saya mengetahui TK tersebut, mereka setuju untuk mendaftarkan saya menjadi salah satu siswa di sana. Mungkin bagi mereka TK ini sungguh bagus secara kualitas dan fasilitas, sehingga jarak yang jauh bukan suatu hambatan berarti. Saya tinggal di daerah Jakarta Timur, dan untuk menuju TK tersebut harus melalui Jakarta Pusat lalu ke Jakarta Utara. And you know exactly how the traffic in Jakarta is. It takes around 2 or three hours to reach this place from my house. That’s why saya bisa berangkat ke sekolah dulu jam 5.15 pagi, padahal sekolahnya masuk jam setengah 8.
                Setelah belajar di TK tersebut,(dan menyadarinya saat saya sudah beranjak dewasa), saya akui TK ini memang memiliki kualitas yang sangat baik. Sebagai sebuah TK muslim, pendidikan karakter islami sangat ditekankan pada usia dini. Pengajaran mereka menunjukkan Islam yang ramah dan baik bagi seluruh masyarakat. Islam yang rahmatan lil alamin, bukan sosok Islam yang radikal dan penuh kebencian. Saya menjadi orang yang sangat mencintai Islam dan bangga menjadi seorang muslim.
                Sebagaimana sekolah muslim lainnya, selain pendidikan karakter, penanaman dasar iman pun menjadi poin yang utama. Saat TK saya hafal berbagai hadist dan saya dengan bangga menceritakannya pada orangtua saya (yang tidak religious) setelah pulang sekolah. Saya juga memahami kisah-kisah Muhammad dan kebaikan para tokoh muslim perdana bagi sesama. Dasar pengetahuan mengenai sejarah dan inti keselamatan dalam Islam pun tak luput diajarkan. Sebagai murid, kami diajarkan bagaimana shalat, puasa, menghafal surat, membaca quran, dll. Mereka pun tidak pernah memakai kekerasan dan emosi saat mengajar, berbeda dengan beberapa guru ngaji yang sangat galak jika ada muridnya yang gagap dalam membaca huruf hijaiyah. Hal ini membuat belajar mengenai Islam bukan menjadi hal yang menakutkan, melainkan sangat menyenangkan.
                Dapat dikatakan mungkin memang saat TKlah saya mencapai tingkat fanatic tertinggi sebagai pemeluk agama. Bahkan karena pengajaran yang sangat menarik dengan dibungkus oleh kisah-kisah unik, tak segan orangtua saya kadang menanyakan hal apa yang baru dipelajari sesaat setelah saya pulang. Bahkan terkadang mereka ikut feel amazed setelah saya ceritakan atau beritahu mengenai suatu kisah atau pandangan Islam (remember, my parents weren’t religious). Bahkan ketika saya tahu bahwa shalat adalah salah satu kewajiban umat Muslim sebagai rasa syukur dan kasih kita kepada Dia yang MahaBaik, tak segan saya menasihati orangtua saya yang memang jarang shalat (yang kemudian saya sesali, setelah besar saya sadar bahwa tidak sopan untuk menyuruh orang yang tidak shalat untuk shalat).
                Namun dibalik seluruh ajaran yang sangat bersifat Islami, mereka tidak pernah mengajari hal lain selain kasih kepada sesama. Iman kami memang menyatakan keselamatan hanya melalui Islam, tapi mereka tak pernah sama sekali mengajarkan kami untuk menjuluki non muslim sebagai kafir, masuk neraka, dan merendahkan mereka seenaknya. Mereka mengajarkan kita sebagai muslim untuk tetap menghormati dan berwelas asih kepada mereka yang bukan seiman. Sehingga pada saat itu tak terbesit pun dalam pikiran saya untuk membenci orang lain karena berbeda agama. Bahkan ketika mengenal orang pun saya tidak memedulikan apa agama mereka.
                But, one of the things I can’t forget is they always promoted to prioritise giving, rather than asking. Atau sebagaimana mereka selalu bilang “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” yang sampai sekarang masih lengket dalam otak saya. Tangan di atas dimaknai sebagai seorang pemberi, sementara tangan dibawah adalah si peminta, atau si penerima. Posisi atas dan bawah merupakan filosofi tersendiri dari kegiatan saat kita misalnya memberikan uang kepada para pengemis. Kita yang memberi tentu memiliki posisi tangan yang berada di atas, sementara mereka yang menerima berada di bawah.
                Saya ingat juga bahwa mereka membuatkan suatu lagu yang di liriknya terkandung kalimat “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” namun saya lupa bagaimana keseluruhan lagu dan nadanya. Pembuatan lagu tersebut menekankan betapa mereka begitu serius untuk menanamkan jiwa “pemberi” pada anak-anak muslim, melihat bagi anak kecil, penggunaan lagu akan lebih mudah diingat ketimbang hanya ucapan belaka.
                Dalam memberikan ajaran tersebut, mereka tidak mengajarkan kita untuk memilih-milih dalam memberi, apalagi sampai memperhitungkan keuntungan apa yang akan kita dapat jika kita memberi. Istilah yang diatas lebih baik dari yang di bawah juga bukan berarti kita tidak boleh meminta atau menerima. Frasa tersebut hanya mendorong kita untuk mengasihi sesama terlebih dahulu, bukan meminta terlebih dahulu. Atau istilahnya bila kita berbuat arif kepada orang lain terlebih dahulu, Allah akan bantu kita melalui orang lain juga.
                Mereka juga memiliki program untuk merealisasikan hal ini, seperti kunjungan ke panti asuhan atau mengundang teman-teman yang kurang beruntung dari panti asuhan. Kita sebagai anak muslim diajarkan untuk berbaur dengan mereka sebagai saudara. Ketika teman-teman dari panti asuhan dating, jangan sampai ada tembok yang memisahkan bahwa murid TK tersebut lebih kaya sementara teman-teman dari panti asuhan adalah miskin. Kita diajarkan untuk mengajak mereka bermain dan bersuka ria bersama. Tentu saja kita juga diharuskan untuk memberikan hadiah bagi teman-teman yang kurang mampu tersebut. Dengan begitu jiwa sosial sebagai seorang yang pengasih pun telah ditanamkan dan dipraktikan.
                Lalu bagaimana konsekuensinya di dunia nyata. It affected me a lot! Misalnya saja saat TK dulu, rumah saya di Jakarta Timur, sementara TK saya berada di Jakarta Utara. Dalam perjalanan sekolah sering melewati perempatan Jl. Perintis Kemerdekaan. Di jalan tersebut lampu merah menyala cukup lama. Bukan hal yang aneh ketika saya yang berumur 5 tahun melihat anak seumuran saya berada di jalanan dengan mengamen atau mengemis. Cuma jendela dan pintu mobil saja yang membatasi kami. Di saat seperti itu saya selalu meminta orangtua saya untuk memberi mereka uang (ajaran TK tersebut benar-benar menyerap dalam diri saya). Hampir tidak pernah saya tidak meminta orangtua saya untuk memberi mereka uang. Bahkan ketika orangtua saya hendak mengabaikan pengemis dan pengamen tersebut, saya kerap memaksa. Bagaimana tidak, it feels like I was there sitting comfortably in the car with music surrounding us and comfy air conditioner, at the same time I saw a child my age standing outside my car staring at us, hoping us to share some money for them. Gak mungkin hatimu ga tergerak ketika melihat kejadian kaya gitu. Dan saya selalu merasa berdosa setiap kali melihat mereka. Saya merasa seperti saya ga ada apa-apanya dibanding mereka. Saya cenderung lebih mudah dalam mendapatkan mainan kesukaan saya, sementara mereka, untuk bisa makan saja harus bergerilya di perempatan ibukota. Saya sungguh merasa kecil dihadapan mereka.
                Begitu juga sampai sekarang, naluri saya ketika menemui pengemis atau pengamen dan golongan orang kecil lainnya adalah memberi, memberi, dan memberi. Tak terpikirkan bagi saya uang itu nantinya untuk apa, bagi saya mengasihi adalah tanpa alasan. Lagipula Dia akan mengetahui bagaimana si penerima uang memanfaatkan uangnya.
                Sering sekali kita dengar larangan untuk memberi uang pada pengemis. Saya tidak menolak hal itu, memang benar memberi uang pada pengemis dapat membuat mereka menjadi seorang pemalas yang tidak mau sama sekali berusaha. Di saat orang lain bekerja mati-matian, dia hanya duduk menengadahkan tangan, dan uang pun datang dengan sendirinya. Namun hal tersebut tidak memberhentikan saya untuk tetap mengasihi. Entah apa yang tertanam dalam otak saya, saya tidak suka untuk menaruh curiga berlebihan terhadap kaum seperti itu. Bagi saya memberi adalah memberi, tak perlulah kita pikirkan dia itu pemalas atau tidak. Ketika kita niat bantu, maka bantulah, barangkali memang ia membutuhkan uang dan memang tak bisa berbuat apa apa kecuali mengemis. Lagipula tidak pernah saya dengar ada dosa bagi seorang yang mengasihi sesamanya. Memang saya juga suka menyangsikan bagi mereka yang muda dan bugar saat mengemis. Namun untuk anak kecil dan orang tua, there’s no reason not to help them!
                Begitu juga pengamen, meski kita ketika sedang asik makan di restoran atau rumah makan, mereka datang menganggu, sebenarnya mereka jauh lebih berusaha dibanding pengemis dan patut kita hargai. Memang terkadang ada yang memiliki kesan mengganggu dan memaksa, namun kita tidak boleh mangkir dari sifat mengasihi sesama. Saya pernah naik angkot jurusan pulogadung-bekasi. Dalam perjalanan, adalah hal yang wajar ketika ada pengamen yang hilir mudik naik turun angkot. Saya biasa memberi mereka kisaran 500 sampai 2000 rupiah, tergantung ketersediaan uang saat itu. Namun ada pengamen yang benar-benar menghibur, saat itu dia menyanyikan sebuah lagu berbahasa inggris yang sangat terkenal (namun saya lupa dia menyanyi lagu apa, pokoknya saya ingat bahasa inggris), and his pronunciation was extremely amazing, also was his voice! Udah pronunciation nya bagus, suaranya juga enak, ga fals. Untuk yang satu ini ga segan saya untuk memberi 5000 sampai 10000, harga yang terbilang cukup tinggi untuk memberi pengamen jalanan. Di situ selain memang memberi, saya menghargai usahanya untuk memiliki pronunciation yang baik dan juga suara yang bagus.
                Atau mungkin sering juga bagi kita menemukan segolongan orang yang menjual hal yang sebenarnya ga kita butuhkan, dan mereka menawarkan pada kita dengan harga yang sangat murah hanya agar dagangannya laku. Misalnya kadang ada bapak-bapak yang menjual cobek (peralatan dapur untuk mengulek atau membuat sambal yang terbuat dari batu) dan ia berjualan seharian namun tak kunjung laku. Kadang juga ada seorang nenek yang terlihat sangat letih berjualan keranjang bambu  dengan harga murah. Kultur dalam keluarga saya terhadap hal ini adalah dengan membeli barang tersebut, namun membayarnya dengan jumlah yang melebihi harga seharusnya. Ketika kita tidak membutuhkan barang tersebut, sudah jelas niat kita adalah memberi dan membantu mereka, bukan membeli dagangan mereka. Seringnya kita tidak membutuhkan barang yang mereka jual. Namun adalah suatu penghinaan jika kita hanya memberi mereka uang karena kasihan. Mereka tidak datang untuk meminta, mereka berjualan! Mereka telah melakukan usaha untuk mendapat penghasilan. Jalan terbaiknya memang dengan membeli barang dan membayar dengan jumlah yang lebih dari seharusnya. Dengan begitu kita dapat membantu dengan tidak menyinggung perasaan mereka. Mungkin nantinya kita akan bingung mau diapakan barang tersebut. Namun itu bukan hal penting, yang penting adalah kita telah membantu mengatasi kesulitan hidup orang lain.
                Akan ada rasa senang yang berbeda ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Terutama lagi ketika kita memberi dan mengasihi sesama kita tanpa alasan atau perhitungan. Rasa senang itu akan muncul entah ketika kamu memberi secara terang-terangan di hadapan orang lain, ataupun secara sembunyi-sembunyi. Bagi saya pengajaran “tangan di atas lebih baik dari di bawah” adalah suatu cara hidup yang penting dalam hidup ini.
Jangan lupa untuk mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri! Sekian.

Comments

Popular Posts