I Knew I Loved You Before I Met You #31harimenulis [DAY 2]



                Pagi-pagi menjelang subuh gua kebangun, ya emang biasa suka kebangun dini hari. Karena bingung gatau mau ngapain akhirnya gua muter lagu dari hp. Berhubung waktu itu ada kuota midnight yang sayang banget kalo ga digunakan, akhirnya gua buka buat streaming TuneIn. Have you ever heard about TuneIn? Itu semacam radio online intinya. Di situ gua punya beberapa saluran radio favorit yang suka play lagu-lagu 80s or 90s. HAHAHA selera gua emang kudet abis. But, berkat TuneIn ini gua jadi tau lagu-lagu jadul yang enak abis.
                Sampailah ketika ada suatu lagu yang mengena di gua. “I wanna stand with you on a mountain, I wanna bathe with you in the sea. I want to live like this forever until the sky falls down on me…” Anak 90an pasti tau lagu ini kan? Iya, di situ gua baru tau ada Band namanya Savage Garden dan judul lagunya “Truly, Madly, Deeply” (karena TuneIn app radio online, so it can show the information about the songs played there).
                Beberapa hari selanjutnya gua coba iseng search di google tentang Savage Garden ini. From there gua tau kalo Band ini rilis album pertama tahun 97, dan album kedua tahun 99, abis itu bubar. Nah abis itu gua kepo gimana video clipnya, then gua search lah video itu di YouTube. Pas play “Truly, Madly, Deeply” di sebelah kanan pasti ada kan kolom “recommendations”, di situ ada juga music video lain dari Savage Garden – I Knew I Loved You.
                Ternyata gua juga suka sama lagu ini. Dan lagu ini tetap jadi salah satu lagu favorit gua pas SMA kelas 10. Bahkan karena music videonya itu ngungkapin suasana di kereta, tiap gua naik CommuterLine pasti gua langsung keinget lagu ini. Sampai akhirnya gua mulai kepikiran sama lirik itu “I knew I loved you before I met you”. How can? It was released in 1999, belum jamannya internet bro! How can someone love another one he has never met before?
                Well it’s quite impossible at that moment, but is possible now! Gua sih mikirnya kejadian semacam itu di tahun 90an cuma bisa terjadi antara ibu hamil sama anak yang dikandungnya. Si ibu belum pernah ketemu sama anaknya, tapi udah pasti dia sangat mengasihi anaknya itu, ya kan? Atau enggak antara seorang penggemar dengan idolanya yang dia liat di televisi, majalah, dan segala media massa lainnya. Tapi tetap aja beda antara kagumnya penggemar ke idolanya, sama cinta antara pasangan kasmaran.
                Bisa kita bilang aneh kalo pada masa itu ada orang yang cinta mati-matian bahkan saat belom ketemu sama orang yang dia cintai tersebut. Gimana engga? Pada masa itu alat komunikasi terbatas. Paling cuma bisa lihat foto, telfonan, apalagi? Pertukaran informasi yang terjadi sedikit sekali. Kemungkinan besar mereka belum benar-benar saling mengenal.
                Beda sama zaman sekarang. Komunikasi udah mudah banget, prosesnya, medianya, dan hampir semua indera kita bisa digunakan. I mean sekarang ada video call, pas video call lo lebih bisa menyerap segala informasi saat berkomunikasi, such as suara, mimik muka, bahasa tubuh, dll. Dari sini lo pasti akan lebih bisa mengenal “pasangan” lo itu meski belom ketemu. Karena ya tadi, komunikasi yang sering dan besarnya informasi yang kita dapat melalui proses komunikasi zaman sekarang.
                Sebut saja misalnya Tinder. Well, I’ve never used this app up until now. But I have a friend using this, so she told me how it works. Tinder ini (setau gua dari temen gua) bisa masukin informasi tentang diri kita and then orang lain kalo suka sama kita, dan kita juga suka sama orang itu bisa menghasilkan “match”. Nah kalo ga salah, kalo udah match itu bisa chatting ya? Pokoknya berawal dari chatting itu banyak orang yang berujung pacaran. Mereka seakan yakin udah menemukan yang pas, masalah ketemuan, itu nanti dulu, sing penting cocok dulu.
                Ga cuma Tinder, setau gua banyak aplikasi sejenis di Android maupun iOS yang menyediakan fitur online dating seperti ini. Bahkan ga cuma untuk straight, gay dan lesbian pun ada. Ada juga di website iqelite.com. Nah kalo yang ini lebih ilmiah, situs ini bakal ngetes kalian dari IQ nya, EQnya, dan segala macam tes untuk menilai kepribadian lo. Setelah udah dapet hasil, situs ini akan mencarikan orang-orang yang memiliki kepribadian yang cocok (cocok loh, bukan sama) dengan kamu. Mereka punya semacam rumusan kalo orang dengan sifat kaya gini cocok sama yang ini atau yang itu dll. Kalo situs yang satu ini gua pernah coba, tapi bukan buat cari jodoh, murni buat tes IQ sama EQ aja hahaha.
                Kenapa gua anggep fenomena ini penting? Karena ada temen gua yang bener-bener nyari jodoh lewat Tinder for real, bukan for fun. Dia sampe cerita ke gua “eh gua ada match baru nih” dll. Sampe sekarang gua masih ga sreg sama pencarian jodoh lewat online gitu. Ya gimana ya masa lo bisa sih naksir sama orang yang ga pernah lo ketemu? Even kalian udah bertukar pesan dan berbagi pengalaman tetep aja bagi gua itu aneh.
                Biarpun kemajuan teknologi komunikasi udah membuat kita memiliki media yang lebih luas dalam komunikasi tidak langsung. Tapi akan beda dengan lo ketemu langsung sama orangnya. Kalo kalian cuma komunikasi atau PDKT lewat chat or telpon or video call, okay lo bisa melihat gimana kesungguhan dia dari suaranya, kalo video call lo bisa menilai dia orang yang fun kah friendly ga dari gesture nya. TAPI kalo lo ketemu langsung hal itu akan jauh beda. Karena kalo orang ketemu langsung lo bisa nilai dia dari penampilan juga. Dari penampilan orang itu lo bisa tau apakah dia orang yang cuek, jaim, brand-minded, dll. Dengan ketemu langsung juga kita bisa liat orang itu confident ga, atau malah pemalu, atau malah gugup saat ngobrol langsung sama kita? Kan bisa juga orang keliatan friendly di chat, pas ketemu jutek abis. Atau juga keliatan humoris di chat, taunya pas ketemu gugup diam seribu bahasa.
                Ga ada yang salah kok dari online dating ini. Tapi ya itu gua bilang, secanggihnya media komunikasi sekarang, tetep akan lebih komunikatif kalo kita ketemu langsung. Daripada udah sering chat trus baper, eh pas ketemu malah merasa ga cocok. Mending nunggu jodoh dateng sendiri kan? Bisa aja malah teman lo yang sering ada di sisi lo itu yang cocok jadi jodoh lo, iya ga?
                Syukur-syukur kalo ketemu yang cocok di online dating trus emang beneran cocok di dunia nyata. Karena in the end, tujuan dari pacaran itu punya hubungan di dunia real toh? Ada baiknya sebelum baper berkelanjutan, harus ngajakin hang out buat PDKT secara langsung, dari situ nanti lo bisa decide, dia orng yang cocok atau malah sebaiknya hubungan itu diakhiri. Good luck buat para pencari jodoh online :)



Comments

Post a Comment

Popular Posts