Dangdut is The Music of My Country #31harimenulis [DAY 1]



              

                Boleh dibilang hampir semua anak yang lahir 90an pasti tau lagu ini. Siapa sih gatau Project Pop? Band yang satu ini selalu dapet tempat spesial buat music Indonesia. Terutama banget ciri khas lagunya yang walaupun kalo ditelisik maknanya dalem, tapi selalu dibungkus dengan humor dan lelucon atau pembawaan yang justru bikin kita ngerasa lucu.

                Tapi bukan itu yang mau gua tonjolin di sini. Seinget gua lagu ini dirilis sebelum gua masuk SD, yaa kurang lebih antara tahun 2000 sampai 2003. Nah disitu gua sebagai bocah TK Cuma bisa denger dan nikmatin aja lagu tersebut. Tapi sekarang gua mau coba menelisik lebih jauh pesan yang disampaikan lagu ini. Engga, ga pake teori kok haha. Gua keinget lagu ini karena played randomly on my spotify.

                So you know exactly what is this song about ya. Tepat! Toleransi dan pemersatuan di antara perbedaan. Kenapa gua mau bahas topik ini? Apa yang disampaikan lagu ini lagi cocok banget sama keadaan di Indonesia, even though this song was released about 15 years ago, tapi lagu ini masih punya korelasi yang cocok buat saat ini.

                Oke, emang semua kembali memanas sejak Pilkada DKI. Antara yang mayoritas dan minoritas lagi panas-panasnya beradu. Bener ga kita udah kehilangan rasa Bhineka Tunggal Ika itu? Yang selalu tertulis di bawah burung Garuda yang selalu ada di setiap tempat umum? Gua rasa lagu ini bisa pas banget buat mengajak kita merenung. Ya gausah dalam-dalam merenung, tapi coba refleksi diri aja, kenapa masyarakat Indonesia get so easy to be provoked dan udah mulai luntur banget toleransi atas perbedaan.

                Di sini ada beberapa bagian dari lirik lagu tersebut yang jadi favorit gua.
 Siapa tidak mengakui perbedaan
Tidak pernah diajari di skolahan
Semua orang macam2 diciptakan
Cakep atau jelek smua punya perasaan

                Di bait yang pertama ini, Project Pop tajem banget dalam menyindir orang intoleran. Bisa kita liat dari liriknya, bagi mereka orang yang ga toleran itu sama aja orang yang ga sekolah. Apa? Bodoh! Nah itu orang ga sekolah itu bodoh, so are intolerant people! Apa yang dikatakan Project Pop disini ada benarnya kok. Dalam kehidupan sehari-hari juga keliatan, orang yang berpendidikan jauh lebih toleran ketimbang orang yang kurang pendidikan atau malah ga ngenyam pendidikan sama sekali. Dua baris terakhir intinya cuma biar kita bisa lebih menghargai semua orang. The same like ‘don’t judge book by its cover’, we should also judge people not by their appearance.

Ada orang Batak, ada orang Jawa
Ada orang Ambon, ada juga orang Padang
Ada orang Menado, ada orang Madura
Ada orang Papua, nggak disebut jangan marah

                Di bait selanjutnya, mereka menunjukkan bahwa Indonesia itu terdiri dari banyak suku. Sekali lagi BANYAK! Bukan cuma Jawa doang. There are so many tribes or ethnic groups in Indonesia. They can’t even mention it one by one, keliatan di bagian akhir “ngga disebut jangan marah.” Nah here is the point. Misal kita sebagai orang Jawa, kita juga harus hormati teman sebangsa kita yang Chinese, vice versa! Masalahnya sekarang lagi booming istilah pribumi dan non pribumi. Gua cuma mau bilang, ga ada satupun yang pribumi ya teman-teman ku tersayang. Kalo kita belajar sejarah, orang melayu itu juga orang Cina yang mutasi ke kepulauan Nusantara. Atau kalo mau berdasar agama, kita semua akan jadi orang timur tengah. So, istilah “pribumi dan non pribumi” itu non sense yah.

Kalo ngaku ngerti tentang persatuan
Mengapa adu domba mudah dilakukan
Kenapa smua mudah hilang kesabaran
Kenapa smua mudah diprovokasikan

                Bait ini juga mantap abis. Setiap barisnya gua setuju benget! Bahkan bisa kita liat di berita, para provokator yang demo atau bersifat radikal itu juga BILANGNYA menjaga persatuan. Okelah gimana mereka menginterpretasikan persatuan itu. In my view, kita harus tetep punya rasa bersatu, jangan karena beda dikit, trus diadudomba pecah. Kalo sekarang bisa dibilang istilahnya “kaum sumbu pendek.” Nah jangan sampai lah kita kaya gitu ya.

                Sekarang liat ke dua baris terakhir. Itu cerminan masyarakat sekarang ga sih? IYA GARA-GARA PILKADA, banyak orang kehilangan kesabaran, dikomporin dikit langsung beraksi. Hasilnya? Ya itu liat berjuta-juta orang ke Jakarta. Ratusan orang sampe bikin keramaian di depan pengadilan sidang Ahok, demi apa? Demi menunjukkan ketidaksukaan mereka sama Ahok yang notabene CINA dan KRISTEN. Gua disini bukan karena memihak Ahok. Tapi tolong lah ya, kita lihat secara objektif, kerusuhan berbau SARA itu jadi makin sering muncul karena kebencian sama Ahok. Coba liat kalo ada orang berdosa yang Muslim dan “pribumi”, reaksi masyarakat ga segitunya tuh. Ye ga?

Ada kulit hitam, ada kulit putih
Ada rambut panjang, ada juga rambut keriting
Ada mata besar, ada mata sipit
Ada orang kaya ada juga orang miskin

                Bait yang terakhir ini juga cuma menekankan kebhinekaan Indonesia tercinta ini. Karena banyaknya perbedaan ini, they offer Dangdut as one of many solution to unite us. Sebenernya banyak hal yang bisa mempersatukan kita, tapi ya karena memang Project Pop pembawannya selalu lucu, so they chose Dangdut. 

           Intinya, gua mau mengajak teman-teman orang Indonesia untuk lebih toleransi dan menghargai aneka perbedaan dalam kehidupan kita. Menjadi mayoritas tidak selalu menjadikanmu besar, but your attitude does! Akhir kata, semoga kita selalu dilindungi Allah Yang Maha Kuasa, semoga Ia selalu menjaga negara kita menjadi damai dan sejahtera, Amin!

                 

Comments

Popular Posts