Cafe di Kuta Bali #31harimenulis [DAY 4]



      Hari ini adalah hari pertama ia ditugaskan di Bali, entah mengapa, mungkin karena pekerjaan Ricky selama ini cukup baik ia dipercaya untuk mengurus sementara cabang perusahaan yang ada di Bali. Brukk!! “Aduh, sorry mas, ga sengaja nabrak”. “Oh  iya iya ga papa, sayanya juga meleng”, kata orang tersebut. Baru saja Ricky hendak melanjutkan jalan keluar bandara untuk mencari taksi tiba-tiba orang tersebut menarik lengannya. “Tunggu sebentar! Rifqi kan?”, Ricky menangguk namun bingung, ‘tahu dari mana dia nama gua?’ pikirnya. “Gua Andrew, inget kan? Temen kuliah lo dulu!”. Ricky berpikir sejenak, dan yap dia baru saja ingat tentang temannya itu. “Oh iya gua inget! Hahaha agak pangling ya, tampang lo makin bule!” Mereka tertawa sejenak dan berbincang, kemudian bertukar nomor hp, dan setelah itu mereka berpisah.
                Setelah itu Ricky memasuki sebuah taksi sambil menuju ke cabang kantornya di suatu daerah yang namanya agak asing. Sambil sesekali melihat tulisan “Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai” yang semakin menjauh, dia mengecek smartphone-nya. Tak terasa ia pun sampai di kantornya. Ricky lalu memasuki kantornya dan melakukan sedikit urusan lalu keluar dan menuju hotelnya. Hotelnya tidak cukup jauh dari kantor, ya bisa ditempuh untuk jalan kaki.
                Jam empat sore ia terbangun oleh suara hp nya yang berdering keras. Nomor telepon tersebut tidak dikenal, namun Ricky tetap mengangkatnya. “Oi, gua Andrew, nanti malem keluar bareng yuk?”. Terlintas langsung dipikirannya bahwa ia lupa menyimpan nomor Andrew di phonebook-nya. “Oke deh, jam berapa nih?”, jawab Ricky malas, karena sebenarnya ia masih capek setelah packing semalaman kemarin. “Jam 6-an aja, entar gua jemput ke hotel lo”.
                “Gua udah di lobby hotel”, Ricky membaca pesan tersebut dan segera menuju lobby. Setelah itu mereka pergi menuju suatu café di bilangan Kuta dengan mobil Andrew. Selama perjalanan Andrew banyak berbincang dan bertanya, maklumlah temen udah lama ga ketemu. Tapi Ricky yang pada dasarnya masih lelah, hanya menjawab sekenanya.
                Ricky membaca sejenak nama café tersebut, café yang sudah umum ia dengar namanya. Setelah masuk mereka dilayani oleh pelayan perempuan cantik, berkulit putih, dan berambut sepundak yang sangat familiar dengan Ricky. Melintaslah Lina dalam pikirannya, mantan pacar sewaktu SMA yang sampai sekarang pun ia belum bisa menemukan penggantinya. Dia pun sebenarnya tidak mengerti kenapa waktu itu hubungan mereka bisa berakhir. Selama di café, Ricky tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dengan pembicaraan Andrew, ia masih terpikirkan oleh sosok Lina. ‘Apa bener ya dia itu Lina, mirip banget sumpah’ ucapnya dalam hati.
                Dalam perjalanan pulang, Andrew yang pada dasarnya memang suka ngobrol, masih terus mengajak Ricky. “Sebenernya gua masih pingin ngajak lo keliling Bali. Cuma ya weekend ini gua agak sibuk”, ucap Andrew. “iya gapapa, lagian kan gua ke sini juga tujuannya kerja bukan jalan-jalan”. “Nanti deh minggu depan, weekend ini kerjaan sibuk sama juga ada kegiatan ibadah menjelang paskah di gereja”.
                Jumat siang, setelah shalat Jumat Ricky kembali ke hotelnya. Kebetulan hari ini sedang tidak sibuk sehingga waktu senggang bisa ia rasakan. Sesampainya di kamar ia membuka laptopnya dan menghubungkannya dengan internet. Pertemuan dengan pelayan cantik kemarin sangat membuatnya penasaran. Ricky membuka facebooknya yang juga telah lama tidak dibuka. Seingatnya ia berteman dengan Lina di facebook. “Lina lina lina, nah ketemu!” gumamnya sambil mencari profil Lina. Dan benar saja tertera dalam profilnya bahwa Lina tinggal di sekitar Kuta, Bali. Hal ini semakin memantapkan prasangkanya. Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang membuat Ricky terkejut dan agak sedih. Ternyata di profil tersebut Lina berstatus sudah menikah dengan seorang pria yang namanya sangat khas orang Bali.
                Profil Lina entah mengapa tidak terisi foto saat ia sudah dewasa, bahkan foto dengan suaminya pun tidak ada, yang ada hanyalah fotonya saat SMA yang menjadi profile picture-nya. Akhirnya pada malam harinya Ricky bertekat untuk mengunjungi café tersebut kembali.
                Malam itu, di dalam café ia kembali dilayani oleh perempuan yang sama yang ditemuinya saat berkunjung dengan Andrew. “LINA” tertera nama tersebut  pada tanda nama karyawati tersebut. Sontak hal tersebut membuat Ricky semakin terkejut. Namun di hadapan Lina, ia berusaha bersikap seperti orang tidak kenal.
                Malam-malam selanjutnya hanya ia habiskan dalam kamar hotel. Ia tak tahu harus apa. Biarpun mantan, Ricky sebenarnya masih ada rasa dan ingin melanjutkan hubungannya. “Dia aja udah nikah, mau apalagi, masa iya gua bikin dia cerai”, ia berbicara pada dirinya sendiri.
                Selasa malam, baru saja Ricky keluar dari sebuah restoran, ia mendapat pesan singkat dari Andrew berisi “2 Ampere, please cepet!”. Ricky pun bingung dengan pesan tersebut. Akhirnya ia bertanya pada seorang bapak yang merupakan ojek. “Pak tau 2 Ampere?”, tanya Ricky. “Tau dek, ayo naik!”. Ricky dalam kebingungannya naik ke motor tersebut. Lalu ia dibawa ke suatu daerah yang agak sepi dan terpisah dari keramaian Kuta. “Nah ni dek sampe sini aja, 2 Ampere ada di ujung jalan itu trus ke kiri, saya ga bisa anter sampe sana, ada premannya.”, ungkap tukang ojek itu. Ricky pun membayar dan langsung menuju tempat yang dimaksud. Ternyata 2 Ampere adalah sebuah tempat karaoke malam.
                Setelah masuk ia mendengar suara pria yang bernyanyi dengan nada tidak beraturan, dan dia yakin itu suara Andrew. Ricky pun masuk ke dalam ruangan tempat Andrew dengan 2 gadis yang tampak sedang menggodanya. “Nah gadis gadis ini dia pacar saya”, ucap Andrew sambil merangkul dan mencium pipi Ricky. Ricky yang tidak tahu apa-apa tentu saja risih dengan hal ini. Lalu Andrew memberikan sejumlah uang kepada 2 gadis sambil mengajak Ricky pergi keluar tempat itu. Saat berjalan terdengar ucapan salah satu gadis itu menggerutu “Ih ganteng-ganteng kok homo sih”.
                Dalam perjalanan kembali Andrew menjelaskan bahwa ia tidak sengaja ke tempat itu dan terlanjur di goda oleh gadis itu dengan sedikit memaksa. “Tadi gua ga sengaja ke situ, eh trus 2 cewek itu agak maksa ngegoda gitu, gua udah berusaha bilang gua homo biar mereka ga makin berani. Nah untung ada lo, selamet deh gua hahaha”, jelas Andrew. “Iya tapi kagak usah pake segala cium, jijik woi!”, ungkap Ricky dengan sedikit kesal. Setelah itu Ricky menceritakan pada Andrew tentang Lina yang belakangan ini sangat mencuri perhatiannya. “Kalo kata gua sih, mending lo ajak ngomong berdua doang sama Lina entah gimana caranya”, Andrew menyarankan.
                Keesokan harinya, setelah pulang kerja Ricky kembali mengunjungi café dimana ia menemukan Lina. Namun entah sial atau apa, Lina tidak nampak disitu. Setelah menyantap secangkir kopi ia pun memanggil pelayan pria dan menitipkan surat untuk Lina. Surat tersebut hanya singkat saja berisi “Halo Lin, ini gua Rifqi temen SMA lo, masih inget kan? Gua mau ngajak lo ketemuan hari Jumat di café lo bisa kan?” Ya memang Ricky menggunakan kata “teman” karena dia agak enggan untuk menyebut “mantan”.
                Pada hari Jumat ternyata Lina menyanggupi permintaan Ricky. “Kita bicara di tempat lain aja ya”, sambil mengajak Ricky keluar dari café itu menuju suatu tempat yang tidak jauh dari tempat ia bekerja. Selama beberapa lama keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan.
                “Dari awal gua udah tau kok kalo itu lo, cuma ya gua pura-pura ga tau aja, biar ga keinget sama masa lalu kita. Lo udah tau kan gua udah nikah, gua juga tau pasti lo akan ngajak gua ketemuan kaya gini. Dan ini mungkin lo ingin ini kembali”, ucap Lina memulai sambil menyodorkan sebuah boneka yang pernah Ricky berikan sewaktu SMA.
                “Engga, ga usah, ini lo simpen aja, anggap aja ini kenang-kenangan dari gua buat lo. Emang pada dasarnya gua pingin ngajak mmm balikan tapi yaudahlah kan lo juga udah nikah” sanggah Ricky sambil menolak pemberian Lina. “Gua cuma pingin tau keadaan lo sekarang aja kok”, ucap Ricky dengan gugup.
                Tak berapa lama percakapan mereka pun berakhir. Ricky pulang dengan perasaan campur aduk. Sesampainya di hotel pun ia masih bingung dengan pikiran dan perasaannya yang sulit di jelaskan. Hari ini adalah hari terakhir ia di Bali, keesokan harinya ia harus kembali ke Jakarta.
                Sabtu pagi, Andrew mengajak Ricky bertemu dan jalan-jalan sebentar sebelum mengantarnya ke bandara. Ricky juga sempat menceritakan hasil pembicaraannya dengan Lina. Tapi Andrew tidak bisa berkomentar apa-apa.
                Sesampainya di Bandara Andrew mengantar Ricky sampai ke tempat check-in. Setelahnya mereka melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Selama di pesawat Ricky masih saja memikirkan hal yang sudah merubah perhatiannya selama seminggu. Tapi mau gimana lagi, memang harus begitu.
                Hari-hari selanjutnya Ricky menjalani rutinitasnya seperti biasa di Jakarta, dan berusaha tidak mengingat kejadian di Bali.

Comments

Popular Posts